dua digit kata yang kini beralih makna, saat kau menawarkan undangan atau janji kepada teman mu jika ia menjawab dengan ungkapan insha Allah, bahkan dapat dipastikan 99 % insha allah itu bermakna ia (tidak bisa) datang
sempat kesal dan keki saat aku sendiri yang menawarkan undangan kepada teman ku, yang serta merta dijawab dengan ungkapan "insha Allah" yang selama ini kuyakini penuh bahwa ia akan mengusahakan untuk datang memenuhi undangan namun ternyata anggapan ku salah besar yang ditunggu tak jua datang, malah yang tidak berujar "insha allah" lah yang datang
sebenarnya kagok juga, mereka faham ga sih makna insha allah?
atau jangan jangan mereka telah bersepakat tanpa sadar jika insha allah itu artinya tidak bisa atau
kalimat tolakan yang dipoles lebih halus yang dibahasakan dalam bahasa arab menjadi "insha allah/tidak bisa dalam versi mereka
padahal mungkin kita lupa jika ingkar janji itu termasuk ciri orang munafik, jika memang tidak bisa memenuhi undangan alangkah lebih baik untuk berkata "tidak bisa" jangan menjadikan insha allah alternatif untuk menolak ajakan
sebagaimana perintah Allah dalam surah al kahfi 23-24
“(23) dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu:
“Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, (24) kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah” dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.
sebagaimana manusia yang memiliki beragam kesibukan mungkin memanglah kita tak bermaksud untuk berbohong mengenai memenuhi janji, bisa jadi kita terlupa atau ada beberapa yang sengaja melupakan. maka memilih kata insha allah untuk menutup pembicaraan hanya agar cepat dan tidak enakan kepada teman padahal kita punya kesibukan lain yang tidak bisa ditinggalkan yang berakibat kita tidak bisa datang dan menutupi hal ini dengan berujar "insha Allah ya hati2 sebab ketidak enakan kita akan berbuntut pada tergolongnya kita pada manusia munafiq yang memiliki kebiasaan ingkar janji
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati” (HR Al-Bukhari, Kitab Iman, Bab Tanda-tanda Orang Munafik, no. 33 dan Muslim, Kitab Iman, Bab Penjelasan Sifat-Sifat Orang Munafik, no. 59).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar