Sabtu, 16 Mei 2020

Aku menyesal


:..Aku terlahir ditanah Sumatera,

Di sebuah kota yang masyur dengan orang-orang yang berwatak keras dan kasar
Setidaknya begitu bagi orang- orang jawa tulen di tempatku bermukim kini.
.
Aku terlahir dari keluarga Islam namun tidak begitu patuh pada hukum dan kewajiban beragama sebagai muslim sejati

ayah ku hampir saja tidak pernah terlihat sedang  mendirikan shalat begitupan ibuku hanya sesekali jika mau saja dan shalat tidak menjadi rutinitas kewajiban dirumah kami.
.

Bagitupun aku dan adik-adikku juga melakukan hal yang sama, namun tidak berarti keluarga ku sangat urakan, bisa dibilang kami termasuk yang santai dalam beragama, tidak patuh dan tidak juga jauh melampau batas
Setidaknya it menurutku.

Dalam keseharian berkata-kata jorok bukanlah aib bagi kami, sudah biasa dan tidak kaget saat ucapan-ucapan kotor terlontar dari mulut masing- masing kami
.
Semua berwatak sama kerasnya, berlidah tajam, sekali bicara dapat membuat orang lain sakit hati dan menangis, kerap kali ibuku menangis dibuatnya padahal dia pun tak jauh beda bahkan sama saja,
Tak ubahnya ayahku saat ia cemburu pada ibu dengan sangat lancar kalimat- kalimat kasar bermunculan dari lisan nya
.
Aah kami sudah terlalu biasa mendengarnya
Tidak heran, tidak kikuk dan tidak malu sedikitpun.
.
⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬

Kisahku berawal dari kegelisahan setamat ku dari SMA, 14 tahun yang lalu,,,
Dengan bermodal ijazah SMA,
Aku mencari peruntungan sebagai SPG dari salah  satu supermarket ke supermarket,
 dari Mall ke Mall lainnya hingga pasar ke pasar aku jalani profesi sebagai pramuniaga dari produk A ke produk B silih berganti...
.
tentu bukan hal yang sulit bagiku untuk
Sekadar mendapar pekerjaan semacam itu
Aku memiliki tubuh yang cukup proporsional dengan paras cantik berkulit putih dan bermata dominan sipit, melukiskan wajah khas gadis desa Ibuku asli walau aku blasteran suku lain dari ayah
.
Singkat cerita,
menjadi seorang SPG cukup membuat lelah jiwaku
Dengan gaji UMR kotaku yang terbilang RendahπŸ˜’
.
.
Setiap hari aku harus menggunakan angkot sebagai alat transportasi satu- satu nya kala itu
Zaman dahulu sekali belum ada transportasi online seperti sekarang
.
Ditengah hari panas terik kulihat sebuah motor melaju disisi kanan ku, jalanan cukup lengang karna panas cukup terik,
Motor  berwarna hitam itu ditumpangi oleh dua orang berjaket coklat pekat
 sedang aku terus melangkah santai menuju angkot untuk pulang
 .
Aku sudah tidak memperdulikan motor yang tadi kulihat, aku berjalan menunduk karna silau pada sinar matahari, hari ini pulang nya agak cepat,
aku ingin segera berbaring istirahat dirumah.. fikirku...
.
.
Tidak berselang lama secepat kilat si pengendara motor tadi menarik tas gandeng yang ku silang kan dibahu yang berisi gaji bulananku,
Tarik menarik terjadi namun tali tas ku putus
Tas berhasil didapatkan dua orang tadi

Sontak aku berteriak...
Tolong... Tolong....jambrett... Tolongg...
.
 teriakkan ku terdengar parau hendak menangis
Bak lolongan anjing ditengah terik matahari
.
Tapi teriakanku tak ada yang menggubris
Semua orang nampak bingung
Sementara si jambret semakin melesat jauh
.
Ada apa mba? Mana jambretnya, tanya seorang ibu mendekat sembari menyentuh pundakku

Itu bu, yg motor hitam, jaket coklat dan dua orang tadi tunjukku ke motor yang jarakku sudah jauh tak terlihat
.
Orang- orang baru berkumpul saat aku mulai menangis...
Namun tak satupun dapat menolong dan mengejar jambret itu...
Tubuhku seketika melemas,
.
Sudah tidak ada harapan lagi, melapor pun rasanya tidak berguna fikirku

Kerumunan orang nampak membicarakan kejadian barusan yang menimpaku namun tak satupun dapat menghiburku.
.

Langkahku gontai menaiki angkot dengan bermodal uang 5.000  an yg sebelumnya telah kuselipkan disaku kanan celanaku
.

πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦

Sesampai dirumah aku sampaikan kisahku
Sayangnya ibu tidak menaruh iba padaku, ia lebih penasaran pada si jambret dan tidak mencoba menenangkanku
.
Sejak kejadian it aku tidak berselera untuk kembali bekerja, aku putuskan berhenti dan mencari peruntungan lain
.
Berkat ajakan dari keluarga sebelah ibu yang sudah menagguk hidup berkecukupan serta karena merasa gajiku masih sangat minim aku putuskan berhenti di SPG dan memutuskan
berangkat menuju sebuah kota di jawa barat,
yang terkenal dengan industri pabriknya...
.
Disini aku mulai merasakan hidup yang benar-benar hidup, karirku bergerak naik menanjak...
.
Aku dapat membeli apapun yang aku mau,
Dapat mengirim uang untuk orangtua setiap bulannya
Hingga aku dapat kuliah di sebuah universitas ternama disana dari hasil jerih payahku
.
Setelah sekian lama bekerja dan posisiku mulai mantap, aku bertemu dengan salah satu bosku yang berkebangsaan bermata sipit,
walau awalnya aku agak kesulitan berkomunikasi dengannya
Namun akhirnya bisa juga sedikit demi sedikit

Dan Akhirnya dari nya juga aku berkenalan dengan beberapa orang dengan kebangsaan yang sama
.
Tidak jarang juga dari beberapa rekan kerjaku sesama orang indonesia yang berniat mendekatiku namun aku sama sekali tidak berhasrat pada mereka sedikitpun walaupun banyak yang terbilang tampan namun tidak cukup mapan bagiku.
.
Hasrat dan daya tarikku tetaplah hanya pada lelaki-lelaki sipit dan berkantung tebal itu




Hingga akhirnya aku bergonta ganti pacar dari kalangan mereka

Sampai hari ini aku tengah dekat dengan seseorang sampai dia pun mau membayari kredit rumah mewahku yang berlokasi dipalembang yang tinggal bebeparapa bulan lagi menuju lunas

.
Perbedaan agama antar kami tidak menjadi masalah bagiku, Yang penting bagiku dia tidak pelit dan mau berbagi uang nya itu juga cukup..
.
Orang tua ku yang juga sama tidak pernah serius mempermasalahkan hal itu
Bahkan mereka dengan suka cita menerima
.
Lebih-lebih saat kekasihku ku ajak pulang dan membagi-bagi kan uang dengan suka cita keluarga besarku menerimanya

Tak kupungkiri jika uang adalah lem perekat keluarga ku yang paling ampuh
Siapapun dapat aku tundukkan dengan uang
Mereka semua mendekat bak penjilat dimataku.
.
Seringkali aku berpenampilan terbuka dengan rambut pirang tak ada satupun yang sanggup menegurku
Hanya ada beberapa yang kusadari nampak saling berbisik menggunjingkan aku
Aku tidak pernah memperdulikan itu selagi  aku senang.
.☺️

sekarang usiaku sudah merangkak medekati 30
Namun aku tetap terlihat sangat cantik tak ubahnya gadis 17 tahun😁
Memang ku akui kekhawatiran ku tentang usia
Namun aku telah memutuskan tidak akan menikah sebelum Rumah mewahku selesai toh yang membayar juga bukan aku,πŸ˜‚πŸ˜‚
.
Hari- hari kulalui tanpa agama terasa sangat gersang dan kerdil
Aku mulai lupa bagaimana cara shalat yang dulu diajarkan oleh guru SD ku
Jangankan untuk shalat niatnya saja aku sudah lupa
.
Malah sesekali aku sering mengikuti kekasihku ke wihara tempatnya ibadah
Ditunjang penampilan ku banyak yang mengira aku termasuk dari kaum mereka

Nyatanya aku hanya penyusup... HhhaaπŸ˜‚πŸ˜‚
.
πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Menjelang kepulangan ku libur hari raya tahun 2016
Merupakan tahun yang paling menyakitkan dalam hidupku
Masih sebulanan lagi kepulangan ku menjelang libur

Ibuku dipanggil oleh sang kuasa
Aku dilanda galau hebat


Disatu sisi aku sangat merindukan nya, ingin memeluknya memandangi wajahnya untuk terakhir kali
Namun itu hanya ada didalam angan cuti tak bisa diajukan
Karna saat it penjualan pabrik sedang meroket membuat para karyawan dilarang mengajukan cuti,disisi lain juga tengah mendekati libur hari raya...
.
.
Aku hanya bisa menangis, menjerit dalam hati ditengah kesunyian ku
Bahkan kekasihku yang kaya raya itu tak mampu menjadi pengobat duka ku..
.

Waktu berselang, hari itu tiba, aku pulang kekota ku
Namun tidak lagi bisa kutemukan celoteh ibu, jemarinya yang kasar yang jarang kusalami it sudah tidak bisa kuraba dan lihat lagi.
.
Hanya  makamnya yang dapat kupandangi
Aku kehilangan semangat kerja, menjadi lemas tertunduk lesu
Aku benci melihat haluan takdir,
Jika dapat kubeli ingin rasanya kubeli nyawa untuk seorang ibu.
.
.
Libur sepekan berlalu, aku hanya mengurung diri dikamar
Teman silih berganti menghiburku, tak juga dapat melepaskan rasa sedihku,
aku benci mendengar hujan karena bagiku hujan bak tengah mengejek kesedihanku

🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊🌊

Menjelang habis masa libur hari raya Aku berangkat kembali ke kota  tempat ku mengadu nasib,
namun rasanya aku tak punya semangat hidup lagi, semangatku telah hilang mengikuti kematian ibu
Tak berguna harta yang kukumpulkan
Bahkan rumah mewah dari si sipit tak juga cukup menghiburku.

Aku hidup durudung duka, bahkan doa yang dahulu ku hafal, kini tak dapat ku lantunkan untuk ibu, aku menjadi gagu, namun hatiku menloncat-loncat ingin terjun.

-aku menyesal-
-Dituliskan dari kisah nyata-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar