Jumat, 01 Februari 2019

SEJARAH HMI


SEJARAH HMI

HMI didirikan di kota yokyakarta oleh ayahanda Lafran Pane pada tahun 1947 dengan tujuan awal mempertahankan negara republik Indonesia dan mempertinggi derajat republik Indonesia. HMI juga dilandasi dengan independensi, memperlihatkan diri sebagai organisasi kemahasiswaan yang ideal dan modern. Ketika itu memang bangsa Indonesia tengah berjuang mempertahankan proklamasi kemerdekaannya dari ancaman kolonialisme Belanda yang berusaha keras untuk menjajah kembali. Inilah yang menjadi landasan awal kepedulian HMI terhadap problem yang dihadapi ummat Islam Indonesia khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya. Dan ini menimbulkan kesan tersendiri di kalangan pendiri bangsa bahwa HMI bersatu dalam mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia pada era revolusi fisik. Jenderal Soedirman ketika sambutannya pada ulang tahun HMI yang pertama di Bangsal Agung, kepatihan Yogyakarta tanggal 6 Februari 1948 menggambarkan peran HMI sebagai tumpuan harapan komunitas muslim dan masyarakat Indonesia. Dengan kondisi revolusi fisik, HMI mampu mengkondisikan dirinya sebagai pejuang yang terdepan dalam memperjuangkan masa depan bangsa.
Dari 1947 sampai dengan 1949, pada masa ini kader-kader HMI secara berangsur menyebar untuk berperan aktif dalam bidangnya. Imbasnya, HMI dijadikan sebagai kekuatan yang perlu diperhitungkan dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.
Memformulasikan dan menempatkan posisinya di tengah bangsa dan negara waktu itu memperlihatkan HMI mampu menghadapi zaman dan diterima oleh masyarakat. HMI mempunyai beberapa fungsi sebagaimana disampaikan dalam pidato tahunan oleh Ketua Umum PB HMI Deliar Noer pada tahun 1954. Yaitu pertama sebagai sebuah organisasi kaum muda yang mengemban tugas untuk menjadi agen perubahan bagi bangsa dan negara. Kedua, HMI sebagai sebuah organisasi mahasiswa mempunyai tanggung jawab terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan dunia, mahasiswa, terutama di dalam kampus. Ketiga, HMI sebagai pendukung utama Islam mempunyai tanggung jawab terhadap aplikasi nilai-nilai keislaman yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Era demokrasi terpimpin (1958-1965) merupakan fase peperangan ideologi, seperti dikatakan oleh Ichwan Mustafa mantan Staf ketua PB HMI periode 2000-2002 dalam makalahnya, antara ideologi NASAKOM yang dibawa oleh Presiden Soekarno dengan ideologi Islam kelompok Masyumi, sehingga terjadi benturan-benturan yang sangat tajam dalam sejarah bangsa Indonesia ini. Pada tahun 1965 ini HMI ingin dibubarkan oleh PKI dengan cara menghasut Presiden Soekarno. Tetapi dengan lobi kader HMI ke Presiden Soekarno, HMI tidak jadi dibubarkan.
Masa 1966-1972 sebagai masa keemasan HMI, ketika HMI memperlihatkan jati dirinya sebagai insan akademis, pencipta dan pengabdi. Pergolakan pemikiran dimulai dari kader-kader Jogyakarta dengan motor Ahmad Wahib dan Djohan Efendi sebagai tokoh pembaharu Islam pada masanya. Ahmad Wahib mengumandangkan pembaharuan dalam Islam dengan konsep sekulerisasi, yang kemudian dilanjutkan oleh Cak Nur. Pada acara silaturahmi PII-HMI dan GPII, dalam makalahnya yang bertema keharusan pembaharuan pemikiran Islam dan masalah integrasi ummat, Cak Nur menyatakan bahwa ummat Islam Indonesia dalam keadaan sangat menderita akibat stagnan dalam pemikiran keagamaan dan seakan telah kehilangan daya serang psikologis dalam memperjuangkan hak-hak mereka.
Antara tahun 1972-1982 HMI mengalami penyusutan pemikiran pembaharuan dengan mulai masuknya kader-kader HMI pada wilayah politik. Semangat elitis mulai terbangun, kader mulai jauh dari masyarakat dan jiwa intelektual tergadai oleh rayuan kekuasaan.
Pada periode selanjutnya dari tahun 1983-1998 adalah masa keemasan politik praktis. HMI  berada pada puncak singgasana. Secara tidak langsung, pada penetapan asas tunggal yang dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1983 adalah masa uji bagi organisasi kader ini. Padahal waktu itu organisasi non-pemerintah mengelu-elukan PB HMI untuk maju di garda terdepan dalam melawan rezim Orde Baru tersebut.
pada periode ini, ketua umum Pengurus Besar HMI merupakan jabatan yang sangat prestisius, karena setelah memimpin kemudian menjadi anggota dewan sebagai jatah kader HMI. Yang muncul ketika itu terkikisnya idealisme dan suburnya pragmatisme untuk melayani tuntutan penguasa negara. Di sini pula terjadi benturan antara kader HMI yang menerima asas tunggal Pancasila dan yang tetap dengan asas Islam. Yang menolak asas pancasila, sebagai konsekuensi kekecewaannya mendirikan HMI MPO (Majlis Penyelamat Organisasi) dengan Eggy Sudjana sebagai ketua umum yang pertama.  Menurut Ichwan Mustafa fase ini adalah fase kedua Orde Baru yang sudah terkonsolidasi melalui sejumlah social engineering. Kemudian fase selanjutnya (1985-1998) ketika rezim mulai mapan, HMI semakin sering melakukan penyusuian dengan rezim. Lama-kelamaan justru HMI menganggap diri bagian dari rezim, terperangkap dalam lidah buaya rezim korporatis.


Sejarah terbentuknya HMI canbang lubuklinggau
Berawal dari mandat badko yang di berikan kepada ayunda masnun sebagai kordinator regional kohati sumbagsel yang pada saat itu juga menjadi anggota badko untuk mendirikan cabang baru di lubuklinggau karena ayunda masnun berasal dari kota lubuklinggau. Maka hal baik itu langsung di tanggapi baik oleh beberap mahasiswa stkip karena pada saat itu perguruan tinggi yang ada di lubuklinggau hanya, stkip terpilihlah berapa anggota mahasiswa stkip di antaranya mulyadi fabena,rudi erwandi,syarbani dkk,beberapa calon kader tersebut melakukan basic training di hmi cabang curup karena merupakan cabang yang terdekat diri cabang lubuklinggau. hal ini belum bisa di lanjutkan karena cabang palembang belum berhasil mendirikan beberapa komisariat di beberapa perguruan tinggi besar di palembang oleh karena itu PB-HMI pada saat itu hanya memberikan status calon cabang persiapan maka terpilihlah kanda muliadi fabena sebagai ketua umum dan kanda rudi arwandi sebagai sekertaris umum, selanjutnya pada kongres dijakarta ayunda masnun mengajak beberapa kader dan juga pengurus kohati untuk melihat dan juga belajar mengetahui bagai mana organisasi hmi yang sebenarnya berjalan satu tahun dengan terpilihnya kanda rudi erwandi sebagai ketua umum status Hmi cbng lubuklinggau pun berubah menjadi Hmi Cabang persiapan dengan syarat mendirikan komisariat maka di bentuklah komisariat stkip dan pada saat itulah hmi cabng lubuklinggau mulai melakukan petreningan dengan di hadiri beberapa calon kader yang bersasal dari dua sekolah tinggi yaitu stkip dan stiper,dan yang menjadi instruktur padasaat itu yaitu dari badko dan langsung dari PB-HMI.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar