SEJARAH HMI
HMI didirikan di kota yokyakarta
oleh ayahanda Lafran Pane pada tahun 1947 dengan tujuan awal mempertahankan
negara republik Indonesia dan mempertinggi derajat republik Indonesia.
HMI juga dilandasi dengan independensi, memperlihatkan diri sebagai organisasi
kemahasiswaan yang ideal dan modern. Ketika itu memang bangsa Indonesia tengah berjuang
mempertahankan proklamasi kemerdekaannya dari ancaman kolonialisme Belanda yang
berusaha keras untuk menjajah kembali. Inilah yang menjadi landasan awal
kepedulian HMI terhadap problem yang dihadapi ummat Islam Indonesia khususnya,
dan bangsa Indonesia pada umumnya. Dan ini menimbulkan kesan tersendiri di
kalangan pendiri bangsa bahwa HMI bersatu dalam mempertahankan kemerdekaan
republik Indonesia pada era revolusi fisik. Jenderal Soedirman ketika
sambutannya pada ulang tahun HMI yang pertama di Bangsal Agung, kepatihan
Yogyakarta tanggal 6 Februari 1948 menggambarkan peran HMI sebagai tumpuan
harapan komunitas muslim dan masyarakat Indonesia. Dengan kondisi revolusi
fisik, HMI mampu mengkondisikan dirinya sebagai pejuang yang terdepan dalam
memperjuangkan masa depan bangsa.
Dari 1947 sampai dengan 1949, pada masa ini kader-kader
HMI secara berangsur menyebar untuk berperan aktif dalam bidangnya. Imbasnya,
HMI dijadikan sebagai kekuatan yang perlu diperhitungkan dalam mempertahankan
kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.
Memformulasikan dan menempatkan posisinya di tengah
bangsa dan negara waktu itu memperlihatkan HMI mampu menghadapi zaman dan
diterima oleh masyarakat. HMI mempunyai beberapa fungsi sebagaimana disampaikan
dalam pidato tahunan oleh Ketua Umum PB HMI Deliar Noer pada tahun 1954. Yaitu pertama
sebagai sebuah organisasi kaum muda yang mengemban tugas untuk menjadi agen
perubahan bagi bangsa dan negara. Kedua, HMI sebagai sebuah organisasi
mahasiswa mempunyai tanggung jawab terhadap masalah-masalah yang berkaitan
dengan dunia, mahasiswa, terutama di dalam kampus. Ketiga, HMI sebagai
pendukung utama Islam mempunyai tanggung jawab terhadap aplikasi nilai-nilai
keislaman yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Era demokrasi terpimpin (1958-1965) merupakan fase
peperangan ideologi, seperti dikatakan oleh Ichwan Mustafa mantan Staf ketua PB
HMI periode 2000-2002 dalam makalahnya, antara ideologi NASAKOM yang dibawa
oleh Presiden Soekarno dengan ideologi Islam kelompok Masyumi, sehingga terjadi
benturan-benturan yang sangat tajam dalam sejarah bangsa Indonesia ini. Pada
tahun 1965 ini HMI ingin dibubarkan oleh PKI dengan cara menghasut Presiden
Soekarno. Tetapi dengan lobi kader HMI ke Presiden Soekarno, HMI tidak jadi
dibubarkan.
Masa 1966-1972 sebagai masa keemasan HMI, ketika HMI
memperlihatkan jati dirinya sebagai insan akademis, pencipta dan pengabdi.
Pergolakan pemikiran dimulai dari kader-kader Jogyakarta dengan motor Ahmad
Wahib dan Djohan Efendi sebagai tokoh pembaharu Islam pada masanya. Ahmad Wahib
mengumandangkan pembaharuan dalam Islam dengan konsep sekulerisasi, yang
kemudian dilanjutkan oleh Cak Nur. Pada acara silaturahmi PII-HMI dan GPII,
dalam makalahnya yang bertema keharusan pembaharuan pemikiran Islam dan masalah
integrasi ummat, Cak Nur menyatakan bahwa ummat Islam Indonesia dalam keadaan sangat
menderita akibat stagnan dalam pemikiran keagamaan dan seakan telah kehilangan
daya serang psikologis dalam memperjuangkan hak-hak mereka.
Antara tahun 1972-1982 HMI mengalami penyusutan
pemikiran pembaharuan dengan mulai masuknya kader-kader HMI pada wilayah
politik. Semangat elitis mulai terbangun, kader mulai jauh dari masyarakat dan
jiwa intelektual tergadai oleh rayuan kekuasaan.
Pada periode selanjutnya dari tahun 1983-1998 adalah
masa keemasan politik praktis. HMI
berada pada puncak singgasana. Secara tidak langsung, pada penetapan
asas tunggal yang dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1983 adalah masa uji
bagi organisasi kader ini. Padahal waktu itu organisasi non-pemerintah
mengelu-elukan PB HMI untuk maju di garda terdepan dalam melawan rezim Orde
Baru tersebut.
pada periode ini, ketua umum Pengurus Besar HMI
merupakan jabatan yang sangat prestisius, karena setelah memimpin kemudian
menjadi anggota dewan sebagai jatah kader HMI. Yang muncul ketika itu
terkikisnya idealisme dan suburnya pragmatisme untuk melayani tuntutan penguasa
negara. Di sini pula terjadi benturan antara kader HMI yang menerima asas
tunggal Pancasila dan yang tetap dengan asas Islam. Yang menolak asas
pancasila, sebagai konsekuensi kekecewaannya mendirikan HMI MPO (Majlis
Penyelamat Organisasi) dengan Eggy Sudjana sebagai ketua umum yang
pertama. Menurut Ichwan Mustafa fase ini
adalah fase kedua Orde Baru yang sudah terkonsolidasi melalui sejumlah social
engineering. Kemudian fase selanjutnya (1985-1998) ketika rezim mulai
mapan, HMI semakin sering melakukan penyusuian dengan rezim. Lama-kelamaan
justru HMI menganggap diri bagian dari rezim, terperangkap dalam lidah buaya
rezim korporatis.
Sejarah
terbentuknya HMI canbang lubuklinggau
Berawal
dari mandat badko yang di berikan kepada ayunda masnun sebagai kordinator
regional kohati sumbagsel yang pada saat itu juga menjadi anggota badko untuk
mendirikan cabang baru di lubuklinggau karena ayunda masnun berasal dari kota
lubuklinggau. Maka hal baik itu langsung di tanggapi baik oleh beberap
mahasiswa stkip karena pada saat itu perguruan tinggi yang ada di lubuklinggau
hanya, stkip terpilihlah berapa anggota mahasiswa stkip di antaranya mulyadi
fabena,rudi erwandi,syarbani dkk,beberapa calon kader tersebut melakukan basic
training di hmi cabang curup karena merupakan cabang yang terdekat diri cabang
lubuklinggau. hal ini belum bisa di lanjutkan karena cabang palembang belum
berhasil mendirikan beberapa komisariat di beberapa perguruan tinggi besar di
palembang oleh karena itu PB-HMI pada saat itu hanya memberikan status calon
cabang persiapan maka terpilihlah kanda muliadi fabena sebagai ketua umum dan
kanda rudi arwandi sebagai sekertaris umum, selanjutnya pada kongres dijakarta
ayunda masnun mengajak beberapa kader dan juga pengurus kohati untuk melihat
dan juga belajar mengetahui bagai mana organisasi hmi yang sebenarnya berjalan
satu tahun dengan terpilihnya kanda rudi erwandi sebagai ketua umum status Hmi
cbng lubuklinggau pun berubah menjadi Hmi Cabang persiapan dengan syarat
mendirikan komisariat maka di bentuklah komisariat stkip dan pada saat itulah
hmi cabng lubuklinggau mulai melakukan petreningan dengan di hadiri beberapa
calon kader yang bersasal dari dua sekolah tinggi yaitu stkip dan stiper,dan
yang menjadi instruktur padasaat itu yaitu dari badko dan langsung dari PB-HMI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar