Jumat, 01 Februari 2019

Tujuan, fungsi dan manfaat filsafat


Tujuan, fungsi dan manfaat filsafat

Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).

Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya.

Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran. Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugasfilsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan 'nation', ras, dan keyakinan

keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan.

Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan.


Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).



5. Aliran-aliran dalam filsafat

Aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat sangat banyak dan kompleks. Di bawah ini akan kita bicarakan aliran metafisika, aliran etika, dan aliran-aliran teori pengetahuan.

a. Aliran-aliran metafisika

Menurut Prof. S. Takdir Alisyahbana, metafisika ini dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu (1) yang mengenai kuantitas (jumlah) dan (2) yang mengenai kualitas (sifat).Yang mengenai kuantitas terdiri atas (a)monisme, (b) dualisme, dan (c) pluralisme. Monisme adalah aliran yang mengemukakan bahwa unsur pokok segala yang ada ini adalah esa (satu). Menurut

Thales: air menurut Anaximandros: 'apeiron' menurut Anaximenes: udara. Dualisme adalah aliran yang berpendirian bahwa unsure pokok sarwa yang ada ini ada dua, yaitu roh dan benda. Pluralisme adalah aliran yang berpendapat bahwa unsur pokok hakikat kenyataan ini banyak. Menurut Empedokles: udara, api, air dan tanah. Yang mengenai kualitas dibagi juga menjadi dua bagian besar, yakni (a) yang melihat hakikat kenyataan itu tetap, dan (b) yang melihat hakikat kenyataan itu sebagai kejadian.

Yang termasuk golongan pertama (tetap) ialah: " Spiritualisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat roh. " Materialisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat materi. Yang termasuk golongan kedua (kejadian) ialah: " Mekanisme, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian di dunia ini berlaku dengan sendirinya menurut hukum sebab-akibat. " Aliran teleologi, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian yang satu berhubungan dengan kejadian yang lain, bukan oleh hukum sebab-akibat, melainkan semata-mata oleh tujuan yang sama. " Determinisme, yaitu aliran yang mengajarkan bahwa kemauan manusia itu tidak merdeka dalam mengambil putusan-putusan yang penting, tetapi sudah terpasti lebih dahulu.

" Indeterminisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa kemauan manusia itu bebas dalam arti yang seluas-luasnya.



b. Aliran-aliran etika

Aliran-aliran penting dalam etika banyak sekali, diantaranya ialah:

1) Aliran etika nuturalisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa kebahagiaan manusia itu diperoleh dengan menurutkan panggilan natural (fitrah) kejadian manusia sekali.

2) Aliran etika hedonisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa perbuatan susila itu ialah perbuatan yang menimbulkan 'hedone' (kenikmatan dan kelazatan).

3) Aliran etika utilitarianisme, yaitu aliran yang menilai baik dan buruknya perbuatan manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaat bagi manusia (utility = manfaat).

4) Aliran etika idealisme, yaitu aliran yang menilai baik buruknya perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir, tetapi haruslah didasarkan atas prinsip kerohanian (idea) yang lebih tinggi.

5) Aliran etika vitalisme, yaitu aliran yang menilai baik-buruknya perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidak adanya daya hidup (vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan itu.

6) Aliran etika theologis, yaitu aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai atau tidak sesuainya dengan perintah Tuhan (Theos = Tuhan).


c. Aliran-aliran teori pengetahuan

Aliran ini mencoba menjawab pertanyaan, bagaimana manusia mendapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu benar dan berlaku.

Pertama, golongan yang mengemukakan asal atau sumber pengetahuan. Termasuk ke dalamnya:

" Rationalisme, yaitu aliran yang mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia ialah pikiran, rasio dan jiwa manusia.

" Empirisme, yaitu aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari pengalaman manusia, dari dunia luar yang ditangkap pancainderanya.

" Kritisisme (transendentalisme), yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari luar maupun dari jiwa manusia itu sendiri.

" Kedua, golongan yang mengemukakan hakikat pengetahuan manusia. Termasuk ke dalamnya:

" Realisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambar yang baik dan tepat dari kebenaran dalam pengetahuan yang baik tergambarkan kebenaran seperti sungguh-sungguhnya ada.

" Idealisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang diketahui manusia itu sekaliannya terletak di luarnya.



d. Aliran-aliran lainnya dalam filsafat

Di samping aliran-aliran di atas, masih banyak aliran yang lain dalam filsafat. Aliran-aliran itu antara lain ialah:

1) Eksistensialisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia yang kongkret, yaitu manusia sebagai eksistensi, dan sehubungan dengan titik tolak ini. maka bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi.

2) Pragmatisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa benar dan tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung pada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak di dalam kehidupannya.

3) Fenomenologi, yaitu aliran yang berpendapat bahwa hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dan keyakinan bahwa pengertian itu dapat dicapai jika kita mengamati fenomena atau pertemuan kita dengan realitas.

4) Positivisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat hendaknya semata-mata berpangkal pada peristiwa yang positif, artinya peristiwa-peristiwa yang dialami manusia.

5) Aliran filsafat hidup, yaitu aliran yang berpendapat bahwa berfilsafat barulah mungkin jika rasio dipadukan dengan seluruh kepribadian sehingga filsafat itu tidak hanya hal yang mengenai berpikir saja, tetapi juga mengenai ada, yang mengikutkan kehendak, hati, dan iman, pendeknya seluruh hidup.

Kepentingan filsafat

Akhirnya sepatah kata tentang kepentingan filsafat. Filsafat sering dianggap teori belaka, yang jauh dari kenyataan hidup konkret. Akan tetapi, filsafat ada segi praktisnya juga. Sikap dan pandangan yang dipertanggungjawabkan, seperti yang kita cari dalam filsafat, dengan sendirinya akan mempengaruhi sikap kita praktis juga. Kebijaksanaan tidak hanya berarti "pengetahuan yang mendalam", tetapi juga "sikap hidup yang benar", yang tepat, sesuai dengan pengetahuan yang telah dicapai itu. Ini nampak dengan jelas terutama pada pelajaran etika dan logika yang bersama-sama memberikan pegangan dan bimbingan kepada pikiran dan kepada kehendak, agar hidup dengan 'benar' dan 'baik'. maka konkretnya:

1) Filsafat menolong mendidik, membangun diri kita sendiri: dengan berpikir lebih mendalam, kita mengalami dan menyadari kerohanian kita. Rahasia hidup yang kita selidiki justru memaksa kita untuk berpikir untuk hidup sesadar-sadarnya, dan memberikan isi kepada hidup kita sendiri.

2) Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari. Orang yang hidup secara "dangkal" saja, tidak mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi melihat pemecahnya. Dalam filsafat kita dilatih melihat dulu apa yang menjadi persoalan, dan ini merupakan syarat mutlak untuk memecahkannya.


3) Filsafat memberikan pandangan yang luas, membendung "akuisme" dan "aku-sentrisme" (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan si aku).

4) Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri, hingga kita takhanya ikut-ikutan saja, membuntut pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dalam surat-surat kabar, tetapi secara kritis menyelidiki apa yang dikemukakan orang, mempunyai pendapat sendiri, "berdiri-sendiri",dengan cita-cita mencari kebenaran.

5) Filsafat memberikan dasar-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya.



LATIHAN

1. Apa erti kata filsafat? Mengapa ahli filsafat disebut filsuf?

2. Apa ertinya kebijaksanaan itu?

3. Mengapa kiranya filsafat harus dilakukan dengan aktif?

4. Terangkanlah: kebenaran adalah permulaan filsafat!

5. Uraikanlah soal-soal mana saja yang dapat timbul bagi seorang yang hidup dengan sadar akan dirinya sendiri!

6. Apakah benar jika dikatakan bahwa sebetulnya setiap orang adalah ahli filsafat?

7. Berikanlah definisi filsafat dan terangkanlah erti kata-katanya masing-masing!

8. Apa objek filsafat, dan apa sudut pandangannya?

9. Uraikanlah tentang pembagian filsafat! Mengapa lapangan filsafat dibagi-bagi, dan mengapa dibagi-bagi demikian?

10.Apakah yang dibicarakan dalam logika, kosmologi, etika sosial?

11.Bagaimanakah soal-soal tentang kesusilaan dapat membawa manusia untuk berfilsafat?
Bagaimana Belajar Filsafat..?
Seorang murid mengelub kepada gurunya “bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami. Jawab sang guru, Bagaimana pendapatmu, Nak, Andaikata seseorang menawarkan Buah padamu, apakah ia mengunyahkannya dahulu bagimu? (Anthony de Mello, Burung Berkicau)
Sunan Gunung Djati-Filosofistik atau pengetahuan megenai filsafat belumlah berarti berfilsafat. Belajar filsafat bukan hendak menjadi “ahli waris” seluruh pemikiran yang telah tertulis. Bukan pengulangan kembali, melainkan pengambilan kembali untuk penciptaaan ulang. Berfilsafat merupakan suatu cara berpikir yang tidak bersumber pada suatu  rangkaian kepercayaan, akan tetapi yang hanya berdasarkan pada pengalaman dan pemikiran dari pemikir sendiri. “Filsafat bukanlah suatu pemujaan terhadap sesuatu yang suci, akan tetapi suatu usaha untuk memperoleh pengertian sendiri”[1]
Belajar filsafat sebagai ikhtiar menemukan pemahaman yang jernih tentang segala sesuatu (terutama perihal dirinya sendiri) merupakan makna dari filsafat sendiri. Filosophia adalah “keinginan menjadi arif”, dan kegiatan belajar tentu saja berada dalam keinginan yang sama. Seorang pembelajar seharusnya terus-menerus menegaskan pada dirinya bahwa ia bukanlah “orang-orang yang arif” (sofis) walaupun telah menemukan banyak informasi dan wawasan, pembelajar yang baik adalah yang terus menerus penasaran pada soal bagaimana menjadi arif itu.
Ada perbedaan antara kepandaian dan kearifan. Kepandaian adalah kemampuan untuk menunjukkan semata-mata secara rasional apa yang dapat kita wujudkan dari data-data melalui bertukar pikiran secara logis. Kearifan adalah sikap untuk mengambil suatu pendirian tertentu dalam kehidupan kita berdasarkan hasil kepandaian tadi. Untuk dapat benar-benar hidup, kita harus mempunyai perspektif (cara memandang) atas kehidupan ini dan dengan itu atas kenyataan hidup yang dialami. Kearifan akan membawa seseorang ke dalam suatu kenyataan tertentu sedemikian jauh, sehingga ia mengerti tentang apa yang dipermasalahkannya. Seseorang bisa saja terlihat pandai, namun ia hanya mengkatakan perspektif orang lain bukan perspektif dirinya, bukan hasil olahan dari apa yang benar-benar dialaminya secara mendalam. Sebaliknya, seorang bijak adalah yang tak menunjukkan kepandaiannya namun dapat menunjukkan cara pandang baru yang menyelamatkan kediriannya.
Belajar filsafat berarti belajar untuk berhasrat pada kearifan atau belajar untuk mencintai kearifan. Kearifan bukan sejenis benda yang bisa diambil dari luar diri untuk dimiliki, kearifan dihasilkan dari penyadaran akan diri pribadi. Kearifan secara demikian tak bisa dipelajar dan tak ada satupun yang bisa mengajarkannya. Ia hasil dari mengalami  kehidupan pribadi dengan cara bercermin kepada pengalaman hidup orang lain. Belajar sejarah filafat yang dipenuhi oleh kisah filsuf, kegelisahannya, pertanyaan yang diajukannya, dan upaya untuk mencar jawabannya hanya berarti jika kita menganggapnya sebagai sebuah cermin. Cermin itu memantulkan manusia yang wajahnya sama dengan diri kita, ia bukan dewa-dewa yang teramat suci. Penganggapan bahwa mereka juga manusia akan memudahkan kita untuk membandingkan kedirian kita dengan mereka. Hal ini dapat membebaskan kita dari rasa takut untuk berbeda dengan mereka, filsuf-filsuf itu.
Keterbebasan dari rasa takut ini penting bagi proses pembelajaran. Kita yang selama ini dididik dalam rasa takut dan rasa malu telah merasakan penderitaan terkekang di bawah bayangan yang tak menentu. Semenjak sekolah dasar kita belajar untuk takut dan malu pada guru, takut dan malu membuat kesalahan, takut dan malu untuk berbeda. Barangkali ini berasal dari pola pendidikan yang menekankan pada kemampuan untuk menjawab segala persoalan dan mengharuskan kesamaan dalam menjawab segala sesuatu. Untuk itu, banyak rumah di negeri ini pernah merasa penting untuk memiliki Buku Pintar yang berisi seluruh pengetahuan yang bisa menjawab soal-soal secara tepat dan sama. Rasa takut itu kemudian menekan seluruh keinginan untuk menyatakan kesadaran kita yang sejati dan perasaan yang sebenarnya akan sesuatu. Rasa takut dan malu itu  membuat kita tidak memiliki keyakinan bahwa kita bisa memberikan cara pandang yang berbeda dengan orang lain, akhirnya membuat kita tidak pernah merasa yakin pada diri sendiri.
Dalam rasa takut dan rasa malu kita menjadi pecundang dalam segala hal. Situasi reformasi mementaskan kepecundangan kita. Begitu kebebasan dikumandangkan, kita menemukan diri kita kebingungan untuk melakukan pembentukan formasi baru bagi kehidupan bernegara. Kebebasan dirayakan, namun dalam kerangka rasa takut dan rasa malu. Karena kita takut disalahkan, kebebasan digunakan untuk menyalahkan institusi, untuk menunjuk hidung orang lain. Karena kita malu akan kelemahan yang dimiliki, kita segera menunjukkan kelemahan orang lain. Pada sisi yang lain, ada banyak orang yang menentang proses pembukaan sejarah hitam negeri ini atas dasar rasa malu. Korupsi, Kulusi dan Nepotisme yang hendak dibersihkan tak selesai-selesai karena rasa malu dan rasa takut itu begitu menguat. Alhasil, kita malu dan takut untuk secara terus terang mengakui kesalahan diri kita masing-masing; persis seperti dulu di bangku sekolahan ketika kita malu dan takut untuk bertanya pada guru/dosen di depan kelas.
Filsafat adalah cara untuk menemukan keberanian dalam merumuskan diri sendiri. Dalam filsafat kita menemukan kegelisahan yang tak kunjung habis, pertanyaan-pertanyaan yang terus tidak menemukan kepastian jawaban, dan jawaban-jawaban yang semula dianggap final namun kemudian ditemukan celanya. Kesemuanya ditemukan dalam formasi yang wajar, maksudnya kesalahan dalam filsafat tampak sebagai suatu kemestian manusiawi dan karena itu tak perlu ada rasa takut dan malu terhadap kesalahan. Dalam filsafat kita menemukan banyak cara pandang yang berbeda terhadap satu soal, dan semuanya begitu tak menjadi soal bahkan kemudian menghasilkan kesadaran-kesadaran yang luar bisa. Cara pandang yang berbeda sangat penting bagi kita saat ini, terutama karena kita telah disadarkan oleh proses perubahan sosial bahwa kesamaan cara pandang alih-alih menyelesaikan masalah malah mengekalkan masalah. Dalam dapat belajar bagaimana merumuskan masalah dari apa yang semula dianggap tidak ada masalah. Melalui cara ini kita jadi terpancing untuk mulai lagi merumuskan diri dan kehidupan kita secara baru, bukan dari hal besar dari apa yang menjadi basis dari kehidupan kita: yang remeh dan tak diperdulikan.
Filsafat yang kerap didefinisikan sebagai “hasrat akan kearifan” membuat siapapun yang bersentuhan dengannya tersedot pada hasrat itu. Dalam hasrat terhadap kearifan, kita akan malu ketika merasa diri sebagai sang arif, yang telah arif dan tak mungkin melakukan kesalahan. Terlebih pengakuan diri sebagai sang arif dalam sejarah filsafat ditulis dalam nada miring, yaitu sebagai kaum sofis yang menjajakan kepandaiannya untuk memanipulasi orang lain dengan bayaran tertentu.
Dalam kancah seperti ini, guru/dosen dan murid/mahasiswa tidak berbeda: semuanya memiliki posisi yang sama sebagai pencari yang berhasrat akan kearifan. Murid/mahasiswa yang sering dianggap sebagai orang-orang yang belum tahu, karena itu ia bersedia mencari untuk mendengar dan memperhatikan; dan guru/dosen  yang kerap mereka yang tahu dan telah belajar, pandai, dan yang menyampaikan pengetahuan dan pandangan mereka; tidak ditemukan lagi ketika kita belajar filsafat. Dalam berfilsafat tak ada seorangpun yang “telah tahu” atau telah menemukan kepastian kebenaran. Bukankah filsafat berarti “hasrat menemukan kebenaran”, selagi definisi ini digunakan tak ada satu orangpun yang merasa telah sampai, karena itu tak ada yang bisa menjadi guru dalam arti “telah tahu”. Guru-murid berada dalam relasi mencari kebenaran dengan hasrat yang dalam. Perbedaannya terletak pada cara, guru mencari kearifan dengan cara menceritakan apa yang sudah ia alami (dari kehidupan dan buku-buku yang telah dibacanya) sedangkan murid mengemukakan hasratnya dengan secara tulus mendengarkan dan membaca uraian filsafat sambil menerapkan dalam pengalaman kehidupannya.
Dalam belajar filsafat ada aturan yang disarankan untuk diterapkan sejak awal, hukum itu berbunyi:
“…apa arti gagasan-gagasan mereka untuk para filsuf itu sendiri, apa nilai gagasan-gagasan itu dalam diri sendiri dan apa nilainya bagi kita: itulah ketiga pertanyaaan yang senantiasa harus diajukan orang dalam menyelidiki sejarah filsafat, meskipun secara didaktis atau eksplisit tidak selalu mungkin atau tidak selalu perlu diajukan secara terpisah…”[2]
Lewat cara ini, semua murid dianjurkan secara bebas untuk mengaitkan seluruh pemikiran dengan kondisi dirinya, dengan kesadaran dan hasratnya yang murni. Pada titik ini, ungkapan Wittgenstein, “Filsafat bukan ajaran melainkan suatu usaha” menjadi terasa. Filsafat bukan ajaran karena itu kita tak langsung harus percaya dan membelanya mati-matian, filsafat adalah usaha untuk menemukan kebenaran berdasarkan diri sendiri setalah bercermin dari kebenaran yang telah teruji.
Ketiadaan rasa malu dan takut, kepercayaan pada perbedaan, keyakinan bahwa diri sendiri mampu memecahkan pemecahan akan soal-soal kehidupan menjadi hasil lanjutan dari belajar filsafat. Hal ini mungkin kedengarannya agak berlebihan, untuk itu kisah Sophie dalam novel Jostein Gaardner, Sophies World bisa dikemukakan. Sophie, pada suatu pagi menemukan pertanyaan-pertanyaan aneh: siapakah kamu? Darimanakah datangnya Dunia? Dua pertanyaan itu membuatnya kebingungan, kenapa ada pertanyaan seperti itu? Untuk apa merumuskan pertanyaan sekonyol itu? Bukankah semuanya sudah tergelar dan begitu saja ada?
Lalu ditemani Albert Knox, lelaki misteriur, ia mengembara dari satu pemikiran filsuf ke pemikiran filsuf yang lain: dari Thales sampai Sartre. Dari banyak filsuf itu ia belajar merumuskan jawaban atas masalah kehidupannya. Dari Filsuf Yunani awal Sophie menemukan keajaiban berpikir dari hal-hal yang kecil dan remah seperti air, api atau lainnya; dari filsuf modern ia mendapatkan cara menganalisa kenyataan-kenyataan yang semula dianggap telah lazim; kemudian dari Sartre ia mendapatkan kesimpulan bahwa manusia tidak memiliki sifat untuk bergantung, manusia menciptakan dirinya sendiri. Seluruh penjelajahannya itu dirumuskan ulang untuk menjadi bekal perumusan situasi hidupnya, lalu Sophie menyatakan:
“Setelah melakukan telaah filsafat yang mendalam –yang dimulai dari Filosof Yunani awal hingga zaman sekarang—kami mendapati bahwa kami menjalani kehidupan kami dalam pikiran seorang mayor PBB di Lebanon….Eksistensi kita karenanya tidak lebih atau kurang dari semacam hiburan ulang tahun bagi Hilde Moller Knag (anak mayor tersebut). Kita semua telah diciptakan sebagai suatu kerangka bagi pendidikan filsafat untuk putri sang mayor. Ini berarti, misalnya, bahwa Mercedes putih di  gerbang itu tidak berharga satu sen pun. Itu hanya barang sepele. Nilainya tak lebih dari Mercedes putih yang melaju berputar-putar di kepala seorang mayor PBB yang malang…”[3]
Sophie dan Albert Knox kemudian merealisasikan kegelisahan dan rumusan baru atas kehidupan yang mereka alami. Mereka berdua meninggalkan handai tolannya, keluar dari cerita novel dan berniat mendatangi Hilde dan Mayor. Handai tolannya, tentu merasa aneh dan menganggap semua keputusan Sophie sebagai tindakan sinting. Namun Sophie menjawab, “…Anda dan siapapun yang lain di sini tidak akan merindukan kami karena alasan yang sederhana, yaitu kalian tidak ada, kalian tak lebih dari bayang-bayang.”[4] Lalu Sophie dan Albert Knox mendatangi danau peristirahatan Hide dan Mayor dan melepaskan dayung perahu. Hanya itu yang mereka bisa lakukan setelah berfilsafat? Ya, tetapi itu masih lebih baik karena sudah merumuskan dirinya sebagai tidak sekadar tokoh novel dan menunjukkan daya kreasi di luar kehendak pengarangnya.
Kita mungkin juga tengah menjalani “kehidupan dalam pikiran seorang”, namun tidak pernah menyadarinya. Sophie dan Alberto Knox, lewat penjelajahan di dunia filsafat, bisa melakukan itu, yaitu menemukan simpulan yang menggerakkan kesadaran bahwa menjadi manusia berarti tak bergantung pada siapapun, menjadi manusia berarti merumuskan dirinya sen`diri. Situasi inilah yang barangkali ingin dicapai oleh Andreas Harefa ketika mengutip Peter Sange:
“Pembelajaran sebenarnya mendapatkan inti artinya untuk menjadi sangat manusiawi. Melalui pembelajaran kita menciptakan kembali diri kita. Melalui pembelajaran kita dapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dapat kita lakukan sebemulnya. Melalui pembelajaran kita merasakan kembali dunia dan hubungan kita dengan dunia tersebut. Melalui pembelajaran kita memperluas kapasitas kita untuk menciptakan, menjadi bagian dari proses pembentukan kehidupan”.[5]
Harefa memilih kata pembelajaran untuk proses belajar, dan kata pembelajar untuk aktivitas pelaksanaan hasrat akan kebenaran. Saya pikir kita akan juga setuju dengan kriteria ini, karena dalam belajar filsafat yang terutama memang bukan menemukan informasi mengenai segala hal, namun menemukan diri kita sejati di tengah pergulatan kebenaran-kebenaran.
Filsafat sekali lagi adalah ikhtiar mencintai kearifan. Jadi hubungan guru-murid tidak berjalan dalam hubungan pewaris dan ahli waris. Jikapun ada warisan itu sekadar pemicu agar ahli waris melakukan petualangan untuk memasuki dirinya sendiri. Guru dan murid dalam proses belajar filsafat sama-sama berposisi sebagai thulab (penghasrat), seperti kata-kata Nabi Muhammad, “Jadilah thulab (penghsrat kebenaran) semenjak engaku lahir, sampai ke liang akhir”.
Kembali pada soal pembelajaran filsafat, bagaimana cara hubungan guru-murid? Socrates barangkali tipe ideal bagi guru filsafat, dan Plato adalah tipe murid yang menarik. Socrates menyatakan “saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa” dan ia menyatakan bahwa ia tidak akan menyampaikan kesimpulan-kesimpulan pasti. Socrates hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada diri dan orang lain, sehingga secara bersama-sama mencari jawabannya. Ia seorang arif karena ia dapat meletakkan pengetahuannya dalam kalimat: “Kita sudah sepakat bahwa…tetapi jika anda berkeberatan mengenai satu hal, katakanlah pada saya. Kemudian akan kita pikirkan lagi.”[6] Sementara Plato dengan setia mendengarkan serentak ikut terlibat mengajukan pertanyaan dan jawaban, kemudian menuliskannya dengan perspektif dirinya.
Di samping Socrates, apa yang dikemukakan Imanueal Kant dan Wittgenstein barangkali juga bisa diingat-ingat oleh pengajar filsafat.
“Dari saya, kalian tidak akan belajar filsafat. Saya mengajar kalian berfilsafat bukan pemikiran-pemikiran untuk ditiru, melainkan bagaimana caranya untuk berpikir sendiri”. (Imanuel Kant,)
“Saya tidak boleh mencegah orang-orang lain untuk berpikir, melainkan –apabila itu mungkin—mendorong seseorang untuk berpikir sendiri”. (Wittgenstein)
Kesemuanya dikemukakan agar proses pembelajaran filsafat dapat tetap menjaga energi kreatif dan kritis semua unsur yang terlibat.
“Berfilsafat semenjak taraf yang paling awal anti otoriter. Ia menjauhkan diri dari dogma-dogma, indoktrinasi, sensor dan perintah-perintah untuk pengumuman atau penarikan kembali. Salah satu yang pertama dan uatama dipelajari dalam filsafat adalah keberanian untuk menantang setiap bentuk paksaan dan tidak pernah mengakui suatu kebenaran atas dasar argumentasi-argumentasi otoriter, ancaman atau propaganda yang menggiurkan, melainkan semata-mata atas dasar penertian yang bebas dan alasan-alasan yang lugas. (Paperzak)
Belajar Filsafat; Belajar Mengajukan Pertanyaan
Pertanyaan-pertanyaan anda lebih penting daripada jawaban-jawaban anda dan setiap jawaban menyebabkan terjadinya pertanyaan-pertanyaan baru” Karl Jaspers.
Pertanyaan dan rasa heran adalah muasal filsafat atau berfilsafat. Kemajuan filsafat diukur dari pertanyaan yang diajukan bukan dari jawaban yang diberikan. Berfilsafat berkenaan dengan kemampuan memberikan pertanyaan terhadap sesuatu rumusan yang telah dianggap final. Dalam filsafat, setiap data dan setiap pengalaman sedapat mungkin ditinjau dengan tidak berprasangka dan dengan perhatian yang mendalam.
Jika kita ingin belajar filsafat, fokuskanlah pada pertanyaannya. Jika kita terfokus pada jawaban yang diberikan oleh para tokoh, kita akan terjebak pada pelbagai teori yang membingungkan (banyak tokoh, banyak jawaban untuk satu soal yang sama).  Fokus pada jawaban saja akan membuang-buang waktu percuma. Untuk itu jangan membiasakan diri menghafal ungkapan-ungkapan tokoh-tokoh filsafat, namun kemukakanlah: apakah pertanyaannya?
Alasannya begini dapat bermula dari kata-kata Bertrand Russel berikut ini:
“…para filsuf sekaligus merupakan akibat dan sebab: akibat dari keadaan masyarakatnya dan hubungan-hubungan politik dan sosial dari zamannya; sebab- sepanjang mereka berhasil – dari anggapan-anggapan yang meninggalkan bekasnya pada hubungan-hubungan politik dan sosial dari kurun waktu kemudian.”
setiap filsuf hidup dalam ruang waktunya masing-masing. Ia berada dalam kehidupan, masalah dan teka-tekinya. Ia mengajukan pertanyaan sebagai upaya untuk memahaminya, lalu ditemukanlah sehimpun jawaban. Namun jawaban itu harus diletakkan dalam konteks kehidupannya yang tentu saja berbeda dengan kehidupan kita hari ini. Ungkapan Thales bahwa dunia ini berasal dari air, tentu begitu luar biasa untuk saat itu. Namun untuk saat ini, pada saat ilmu pengetahuan alam telah menunjukkan temuan-temuan yang lebih teruji, jawaban Thales menjadi tidak berarti. Berbeda jika kita berfokus pada pertanyaannya (apakah asal-muasal segala sesuatu?), Thales akan terus bisa digunakan karena pertanyannya masih bisa relevan untuk hari ini.
Jadi, mengutip Hector Hawton[7], cara yang lebih bermanfaat dalam belajar filsafat adalah dengan memperhatikan bagaimanakah setiap filsuf mengajukan beberapa pertanyaan baru, yang teranyam dengan argumen yang segar, dan kemudian mengajukan jawaban namun dimentahkan lagi oleh  pertanyaan baru yang lebih segar dari filsuf kemudian. Begitu selanjutnya. Dengan cara ini, “kita tinggal menyaring pengalaman selama berabad-abad. Kita tidak saja mengetahui, misalnya, hal-hal yang ditanyakan oleh Locke, tetapi juga hal-hal yang dipikirkan oleh Berkeley mengenai pertanyaan itu, dan bagaimana kelanjutan pertanyaan tersebut ketika hinggal di berbagai pikiran Hume dan Kant.
Sekali lagi belajar filsafat berarti menelusuri pertanyaannya bukan jawabannya. Jika kita terpaku pada jawaban akan menjebak kita pada kesia-siaan. Di kancah filsafat yang satu soal terus-menerus menjadi masalah dari zaman ke zaman, memungkinkan satu argumen tidak memiliki umur yang panjang: ia bisa saja telah dikritik dan direvisi oleh pemikiran selanjutnya. Terpaku pada satu argumen saja, tanpa melihat nasib argumen itu pada lipatan sejarah berikutnya,  akan membuat kita membicarakan botol kosong. Kita bersikutat pada argumen yang pada zamannya terbukti sebagai argumen yang salah; atau mengajukan pertanyaan yang pada masa lampau pernah diperbaiki dengan perbaikan yang hati-hati.
Jadi, sebagai langkah, salah satu cara terbaik untuk belajar filsafat adalah 1) carilah pertanyaannya, 2) temukan bagaimana pertanyaan itu dijawab, 3) bagaimana jawaban itu digugat dan diperbaiki; atau bagaimana pertanyaan itu diperbaiki atau digugat dari masa ke masa.
Membaca buku filsafat merupakan kegiatan memperhatikan secara mendalam terhadap segala yang telah dipikirkan orang lain (filsuf-filsuf), menyiapkan rasa heran dan siap mengajukan segala pertanyaan pada mereka. Tokoh yang kita baca barangkali seorang filsuf besar, namun belum tentu ia telah begitu sempurna tanpa kesalahan yang bisa dipertanyakan. Kalaupun ada yang sempurna, kesempurnaan itu untuk zamannya yang belum tentu pas untuk zaman kita.
“Ciri khas dari seorang filsuf yang baik bukanlah bahwa dia harus dapat memecahkan segala persoalan…Seringkali yang paling baik yang dapat dikerjakannya adalah menunjukkan masalah-masalahnya, melukiskannya dengan kata-kata, sekalian dengan segala sesuatu yang mungkin tidak dapat dihindari, dan menerangkan akibat-akibat yang disebabkan oleh keadaan persoalan yang bersangkutan atas penyelidikan-penyelidikan yang lain” (Xenophone)[8]
Hal ini akan bisa dibuktikan jika kita membaca tokoh lain yang muncul setelah tokoh yang kita baca. Kita akan menemukan gugatan atau revisi atas pertanyaan yang menjadi dasar tokoh yang sedang kita baca.
Jadi, bagaimana cara kita belajar filsafat?
  • Anggaplah filsafat bukan barang suci yang disakralkan. Ia hanya pemikiran biasa dari orang biasa yang bisa kita gugat, dipertanyakan ulang.
“Jika  orang menginginkan suatu filsaat sebagai suatu sistem prinsip-prinsip yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang kebenarannya sangat pasti, maka hal itu adalah sesuatu yang mustahil” (Ubbink).[9]
Filsafat bukan pemikiran yang selesai, ia bahkan selalu menyisakan pertanyaan baru yang membuat kita dipaksa terlibat, yakinlah bahwa di dalam filsafat, kita –jarang atau– tidak pernah mendapatkan pemecahan-pemecahan yang tuntas atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
  1. Filsafat adalah pemikiran yang mengundang kita untuk selalu terlibat langsung. Banyak sekali filsafat yang maksudnya agar kita meneruskan apa yang telah dimulainya. Dengan demikian jangan sungkan-sungkan untuk tidak sependapat, tuliskan pendapat dan sanggahan anda, ujilah kebenaran yang dikemukakan oleh filsuf-filsuf itu. Alfred Ayer pernah menyarankan untuk menjadikan pemikiran seseorang sebagai bahan latihan berfilsafat. Ayer menyatakan, “…..ajukan pendapat-pendapat yang sudah tetap itu, sebagai bahan diskusi; mencari standar-standar dan menguji nilai-nilainya; apa asumsi-asumsi itu masih berlaku.” Dengan cara ini kita terlibat, juga kehidupan nyata kita.
  2. Agar bisa menguji dengan baik, kita juga jika perlu harus menunda apa yang semula kita yakini. Dengan cara ini, kita tidak berperang sendirian. Jika dalam pikiran kita masih ada keyakinan lama dan itu dijadikan ukuran, kita tak akan menemukan mutiara yang ditawarkan orang lain. Rasakan dulu tanpa prasangka, baru setelah itu dibandingkan. Serentak dalam perbandingan itu, kita telah melakukan pengujian secara tidak langsung.
  3. Seorang pembelajar filsafat tidak pernah merasa benar sendiri, telah benar dan tak mungkin salah.
“Tidak ada yang kurang pantas bagi seorang filsuf selain daripada mau benar sendiri dalam diskusi dan dalam berargumentasi. Mereka benar sendiri –sampai bentuk refleksi logisnya yang paling halus—adalah pengungkapan “jiwa mempertahankan diri”, yang justru menjadi tujuan seorang filsuf untuk menghapuskannya…” (Theodor W. Adorno)
Artikel ini mencoba menawarkan uraian sejarah filsafat dalam kaitan sebab-akibat, menekankan bahwa inti berfilsafat adalah pertanyaan, dan terakhir memberi peluang bagi kita semua untuk terlibat. Maksudnya,
  1. Satu pemikiran akan diletakkan dalam kaitannya dengan situasi yang menyebabkannya (pemikiran dan situasi zaman sebelumnya) dan situasi yang diakibatkannya (pemikiran dan situasi zaman yang muncul sesudahnya).
  2. Setiap pemikir diletakkan dalam drama pencarian jawaban-jawaban atas pertanyaan pemikir sebelumnya. Ikhtiar yang bermula dari pertanyaan lain (yang mempertegas atau menambahkan pertanyaan utama) lalu merumuskan dengan cara baru, namun rumusan itu akan juga dikritisi dan direvisi oleh pemikir sesudahnya. Dengan cara ini kita akan menemukan kehebatan seorang filsuf (yaitu ketika kita membandingkan dengan filsuf sebelumnya) sekaligus kelemahan seorang filsuf  (yaitu ketika kita membandingkan dengan filsuf sesudahnya).
  3. Setiap pemikir, diupayakan, dikaitkan dengan situasi zamannya serta kemungkinannya bagi aplikasi di zaman ini.
  4. Dalam kaitan sejarah inilah ungkapan Neil Postman dapat dikemukakan, bahwa setiap tokoh dalam sejarah pemikiran ditampilkan sebagai pembuat kesalahan yang besar (the great error maker) sekaligus juga pengoreksi-pengoreksi kesalahan yang besar (the great error-corrector). Karena itu bagi Postman Bagi Postamn, proses belajar selayaknya sanggup memperlihatkan pada peserta belajar bahwa kesalahan bukanlah sesuatu yang memalukan, karena justru melalui kesalahan kita dapat meningkatkan pemahaman kita terhadap sesuatu.
“Karena kita adalah jiwa yang tidak sempurna, maka pengetahuan kita juga tidak sempurna. Sejarah tentang proses belajar adalah sebuah petualangan untuk mengatasi kesalahan-kesalahan kita. Tidak ada dosda bagi orang yang berbuat salah. Dosa itu ada pada ketidakmauan kita menguji kepercayaan-kepercayaan, dan mempercayai bahwa kemampuan-kemampuan kita tidak bisa salah”.[10]
Mon, 31 Oct 2005 20:13:42 -0800
Enam Kunci Untuk Belajar Lebih Cepat
 
Oleh: Patricia Shalka
 
Ingatan anda seperti tapisan?
Pikiran anda suka melayang ke mana-mana?
Jangan putus asa, ini dia……..
 
Seorang teman saya ikut dalam jamuan makan malam, dan di sana dua orang 
laki-laki yang dikenalnya sedang membicarakan The Right Stuff, sebuah buku 
tentang program ruang angkasa Merkurius. Sementara Ted terus-menerus 
menceritakan perincian teknis yang dikutipnya dari buku tersebut, dan hanya 
memberikan beberapa komentar singkat. “Ted begitu banyak memetik dari yang 
dibacanya, lebih banyak daripada yang kupahami”, kata dan kemudian kepada 
teman saya. “Apakah dia jauh lebih cerdas daripada aku?”
        Teman saya ini, seorang pendidik, sangat ingin tahu. DIa tahu kedua 
laki-laki ini punya latar belakang pendidikan yang sama dan demikian pula 
tingkat kecerdasannya. DIa berbicara dengan keduanya dan mendapatkan 
jawaban: Ted tahu bagaimana caranya belajar yang baik daripada Dan. Ted 
membuat otaknya lebih mudah menyerap dengan menggunakan beberapa ketrampilan 
sederhana.
Selama bertahun-tahun, para ahli yakin bahwa kemampuan belajar seorang 
individu merupakan kapasitas yang sudah ditetapkan. Walaupun demikian, dalam 
dua dasawarsa yang terakhir para ahli psikologi dan pendidik termuka 
berpendapat yang sebaliknya. “Kita mendapatkan bukti yang makin banyak bahwa 
kecerdasan manusia bisa dikembangkan”, kata Jack Lockhead, direktur 
Cognitive Development Project di Universitas Massachusett di Amherst. “Kita 
tahu bahwa dengan ketrampulan yang semestinya orang benar-benar bisa 
meningkatkan kemampuan belajarnya.”
Lebih-lebih, ketrampulan ini sifatnya cukup mendasar sehingga hamper setiap 
orang bisa menguasainya dengan latihan. Di bawah ini, dikumpulkan gagasan 
dari para ahli di seluruh Amerika, ada enam cara yang sudah terbukti 
keampuhannya untuk memperbesar kemampuan belajar Anda.
 
1. Lihatlah gambar besarnya lebih dulu. Jika kita membaca suatu bahan yang 
baru dan belum dikenal, jangan menceburkan diri langsung ke dalamnya. Anda 
bisa meningkatkan pemahaman dan pengingatan kalau Anda lebih dulu melihat 
selayang pandang garis besarnya. Lihatlah semua subjudul, keterangan foto 
dan ringkasan yang ada. Dengan laporan atau artikel, bacalah kalimat pertama 
setiap paragraph; dengan buku, lihatlah daftar isi dan bacalah kata 
pengantarnya.
Semua tinjauan selayang pandang awal ini akan membantu Anda menanamkan dalam 
benak Anda apa yang kemudian akan and abaca.
2. Perlambatlah kecepatan dan bicaralah kepada diri sendiri.  Membaca cepat 
mungkin bagus untuk bahan yang mudah, tapi membaca lebih lambat akan jauh 
lebih efektif untuk menyerap hasil karya yang lebih rumit dan menantang. 
Arthur Whimbey dan Jack Lochhead, para pengarang buku teks untuk sekolah 
lanjutan atas dan perguruan tinggi Problem Solving and Comprehension, telah 
memisah-misahkan tiga perbedaan dasar dalam hal bagaimana cara pelajar yang 
baik dan yang buruk mempelajari sesuatu:
       Pelajar yang baik menyuarakan bahan yang dipelajarinya, perlahan-lahan 
atau dengan keras. Mereka memperlambat kecepatan membacanya, mendengarkan 
setiap kata sementara mereka membaca.
       Pelajar yang baik, jika mendapat hambatan, secara otomatis membaca 
kembali 
sampai bisa memahami bahannya. Sebaliknya, pembaca yang buruk terus saja 
membaca walaupun tidak menangkap maksudnya pada kesempatan pertama.
       Pelajar yang baik menjadi “terlibat secara aktif” dengan informasi 
baru. 
Mereka memikirkan apa yang dibaca, menantangnya, dan menguasainya.
 
Pada tahun 1979, WHimbey memperkenalkan metode membaca lambat dengan 
disuarakan ke dalam program tingkat persiapan selama lima pecan di 
Universitas Xavier di New Orleans. Sebagian besar dari 175 orang mahasiswa 
yang menggunakan teknik ini melompat dua tingkat dalam comprehension, dan 
tes kemampuan mereka menghasilkan nilai yang meningkat 14 persen.
 
3. Berlatihlah dalam teknik meningkatkan kemampuan mengingat. Ketika saya 
berumur delapan tahun dan tidak dapat mengeja kata “arithmetic”, seorang 
guru mengajarkan kepada saya sebuah kalimaty yang terus tertanam dalam otak 
saya selama berpuluh-puluh tahun: A rat in Tom’s house may eat ice cream”. 
Huruf pertama dari setiap kata merupakan ejaan kata ‘arithmetic’.
Semua teknik untuk meningkatkan kemampuan mengingat ini, disebut mnemonics, 
mengubah informasi baru menjadi formulasi yang lebih mudah diingat-ingat.
Mnemonics huruf pertama lainnya mencakup: “Homes” (nama danau-danau besar di 
Amerika – Huron, Ontario, Michigan, Erie dan Superior); dan “My very 
educated mother just served us nine pickles” (susunan planet dalam tatasurya 
secara berurutan – Merkurius, Venus, Earth, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, 
Neptunus, Pluto).
Mnemonics juga bisa jalan dengan imajinasi. Caranya adalah menciptakan 
petunjuk visual yang akan membuat bahan yang tak dikenal menjadi mengandung 
arti bagi anda.
Dalam belajar bahasa Spanyol, misalnya, kata Spanyol untuk bebek adalah 
pato. Pato kedengaran seperti kada dalam bahasa Inggris pot (panic). Untuk 
menghubung-hubungkan keduanya, kita bisa membayangkan seekor bebek berenang 
mondar-mandir dengan sebuah panic di atas kepalanya. Maka akan tercipta 
bayangan jelas yang mengingatkan kita kepada pot = pato = bebek.
Mnemonics yang dulunya ditolak oleh para peneliti karena dianggap sebagai 
permainan belaka, kini dianggap sebagai sarana yang efektif untuk memperkuat 
ingatan – melipatduakan atau bahkan melipatgandakan jumlah bahan baru yang 
bisa diingat-ingat oleh para peserta tes. “Ingatan yang baik adalah kunci 
terhadap semua proses pengenalan”, menurut William G. Chase, guru besar 
psikologi di Universitas Carnegie-Mellon di Pittsburgh. “Dan itu adalah 
sesuatu yang bisa dikuasai oleh kita semua dengan latihan”.
Penelitian pengenalan menunjukkan bahwa kita mempunyai dua jenis ingatan: 
short-term memory (STM), ingatan jangka pendek, dan long-term memory (LTM), 
ingatan jangka panjang. STM berlangsng kira-kira 30 sampai 60 detik. Kita 
minta nomor telepon kepada operator, memutarnya, dan kemudian melupakannya. 
Namun LTM bisa berlangsung seumur hudup. Rahasia untuk mengembangkan ingatan 
yang baik, kata Francis S. Belezza, pengarang buku Improve Your Memory 
Skills, adalah belajar bagaimana caranya memindahkan informasi berguna dari 
STM ke LTM dan bagaimana caranya memungut kembali informasi ini kapan saja 
diperlukan.
Mnemonics bisa menadi kunci guna memasukkan data ke dalam LTM dan 
mengeluarkan kembali informasi tersebut. Jangan lupa, pikiran dan ingatan 
seperti otot – makin banyak kita menggunakannya, otot maupun ingatan akan 
makin kuat.
4. Susunlah fakta ke dalam kategori. Dalam suatu penelitian di Universitas 
Stanfor, para mahasiswa diminta mengingat-ingat 112 kata. Ini mencakup nama 
binatang, jenis pakaian, tipe alat angkutan, dan pekerjaan. Untuk satu 
kelompok, kata-kata ini dibagi menjadi empat kategori. Untuk kelompok kedua, 
kata-kata ini didaftar secara acak. Mereka yang mempelajari bahan ini dalam 
kategori yang tersusun secara konsisten mengungguli lain-nya, bisa 
mengingat-ingat kata-kata sebanyak dua sampai tiga kali lipat.
“Mencoba mencernakan informasi dalam satu gumpalan itu sulit”, kata Thomas R 
Trabasso, professor pendidikan dan ilmu perilaku di Universitas Chicago. 
“Dengan menganalisis bahan baru dan membaginya ke dalam potongan-potongan 
yang bermakna, kita membuat belajar lebih mudah”.
        5. Pusatkan perhatian Anda. Lain kali kalau anda menghadapi bahan baru 
yang 
perlu Anda kuasai, tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang ingin saya 
pelajari dengan membaca ini, dan bagaimana saya akan memetik manfaat dari 
pengetahuan yang saya peroleh? “Dengan mengatakan kepada diri sendiri apa 
manfaat belajar bagi kita, kita mengurangi penolakan terhadap kegiatan 
belajar dan menjadi pelajar yang lebih baik”, kata Russel W. Scalpone, 
seorang ahli psikologi dan manajer di A.T. Kearney, Inc., sebuah perusahaan 
konsultasi manajemen internasional.
        Scalpone menyarankan empat teknik lagi untuk meningkatkan kemampuan 
konsentrasi dan memusatkan perhatian:
       Tetapkan waktu dan tempat untuk belajar. Angkat telepon dari haknya; 
tutup 
pintu. Dengan menetapkan lingkungan, Anda menciptakan harapan bahwa kegiatan 
belajar akan berlangsung dengan baik.
       Lawanlah segala hal yang mengalihkan perhatian. Jangan malu-malu untuk 
menggantungkan tanda “Jangan Ganggu” di pintu. Anda punya hak atas waktu 
Anda.
       Cobalah berbagai metode belajar. Membuat bagan, membuat catatan, 
menyusun 
garis besar, bahkan bicara ke dalam tape recorder adalah teknik belajar yang 
bisa meningkatkan konsentrasi. Gunakan ketrampilan belajar apa saja yang 
paling Anda sukai. Jadilah orang kreatif.
       Lakukan monitor terhadap kemajuan Anda. Sibuk tidak selalu sama dengan 
produktif. Kadang-kadang berhentilah dan tanyakan kepada diri sendiri: 
Apakah sekarang ini saya melakukan sesuatu yang bisa membantu pencapaian 
sasaran? Kalau jawabannya ya, teruslah bekerja. Kalau tidak, tanyakan kepada 
diri Anda apa sebabnya. Kalau Anda tidak mendapat kemajuan karena ketegangan 
atau kelelahan, beristirahatlah – tanpa rasa bersalah. Istirahat secara 
teratur bisa meningkatkan proses belajar.
 
6. Temukan gaya belajar Anda sendiri. Pendidik Rita dan Ken Dunn mengisahkan 
cerita tentang tiga orang anak yang masih-masing menerima sebuah sepeda 
sebagai hadiah Natal. Ketiga sepeda ini, yang dibeli dalam keadaan belum 
dirakit, harus dirangkaikan sendiri oleh orangtua mereka. Ayah Tim membaca 
petunjuknya dengan cermat sebelum mulai bekerja. Ayah Mary meletakkan 
bagian-bagian sepeda di lantai dan memberikan petunjuk kepada ibu Mary. 
“Bacakan ini kepadaku”, katanya, sementara dia mengamati komponen-komponen 
sepeda. Ibu George secara instinktif mulai memasang bagian-bagian sepeda, 
hanya melihat ke petunjuk kalau kebingungan. Pada sore harinya, ketiga 
sepeda selesai dirakit, masing-masing dari pendekatan yang berlainan.
        “Walaupun mereka tidak menyadari”, kata Rita Dunn, guru besar 
pendidikan di 
Universitas St. John di New York City, “Para orangtua ini telah bekerja 
menurut gaya belajar mereka masing-masing.”
        “Pendekatan kita terhadap bahan yang tidak dikenal sama unik dan 
khasnya 
dengan diri kita sendiri, dan satu kunci untuk belajar adalah mengenali – 
dan membiasakan gaya yang paling cocok dengan diri kita”, kata Ken Dunn, 
guru besar pendidikan di Queens College di New York City.
        Gaya belajar bisa bervariasi secara dramatis. Suami-isteri Dunn telah 
mengembangkan Survai Pilihan Lingkungan yang Produktif, yang mengenali 21 
unsur yang mempengaruhi cara kita belajar. Faktor-faktor ini memncakup 
tingkat kebisingan, pencahayaan, banyaknya bimbingan yang diperlukan, bahkan 
pilihan waktu.
        Bagaimana gaya Anda sendiri? Cobalah lakukan suatu analisis pribadi. 
Apa, 
misalnya, pendekatan Anda untuk merakit benda yang tercerai-berai? Apakah 
Anda bisa memusatkan perhatian lebih baik di pagi hari atau di sore hari? Di 
lingkungan yang bising atau di lingkungan yang tenang? Buatlah daftar semua 
plus dan minus yang bisa Anda temukan. Kemudian gunakan daftar ini untuk 
menciptakan lingkungan belajar yang paling baik bagi Anda.
        Apa pun gaya yang berhasil bagi anda, ada kabar baik bahwa Anda bisa 
mengembangkan kemampuan belajar Anda. Dan hal ini bisa membuat hidup Anda 
lebih penuh serta lebih produktif.
 

Cara Modern Belajar Filsafat

Penulis: Heri Romli Pasrah
Bernas,
Hampir setiap orang menganggap filsafat sebagai suatu disiplin ilmu yang serius, pelik, dan tidak realistis. Mereka beranggapan, filsafat itu adalah disiplin ilmu yang amat sulit, hanya sebagian kecil orang yang bisa mempelajarinya. Bahkan ada yang mengatakan jangan sering-sering belajar filsafat, bila tidak mampu dan tidak mempunyai keimanan yang tebal kepada Tuhan Yang Maha Esa, bisa-bisa malah melupakan agama (atheis).
Memang, ada mitos yang beranggapan seperti itu terhadap filsafat. Malah mitos tersebut bukan berkembang di kalangan orang-orang awam. Sebagian pemuka agamapun beranggapan dengan memgang teguh kepada kitab-kitab suci sebagai pedoman hidup itu sudah cukup, sehingga menganggap bahwa filsafat itu tidak menjamin kebenaran suatu perkara. Bahkan ada yang mengira, mereka berkewajiban untuk melepaskan diri dari filsafat mempertahankan keimanannya.

Nah, buku yang berjudul Menikmati Filsafat Melalui Film Science-Fiction ini, ingin meruntuhkan anggapan itu, siapa pun-jika saja tahu caranya-sebenarnya dapat memahami konsep-konsep dasar filsafat dengan mudah dan menyenangkan, Melalui film-film fiksi-ilmiah (science-fiction), Rowlands berhasil mengulas tema-tema penting filsafat dengan memikat, sehingga filsafat bisa dikemas menjadi gurih, renyah, dan mudah dicerna.

Pada dasarnya film adalah sarana multimedia yang memang bisa sangat efektif merangsang perenungan filosofis. Disamping itu juga film selalu digunakan sebagai media refleksi filosofis dan sarana proses belajar-mengajar, meskipun kadang kala film-film yang digunakan umumnya jenis film yang jauh lebih pelik.

Ada beberapa hal dalam film yang membuat dapat berfungsi demikian. Pertama, film mampu menyingkapkan pergulatan batin eksistensial tersembunyi manusia dalam dunianya yang spesifik. Sehingga mampu meransang artikulasi filosofis baru, yang mungkin saja tak bersesuaian, bahkan bisa bertentangan dengan keyakinan-keyakinan filosofis baru.

Kedua, bahasa film bukanlah bahasa konsep, melainkan bahasa pengalaman. Maka ia tak hanya menentang pikiran, tetapi terutama merangsang partisipasi sang penonton untuk ikut "mengalami"nya. Sehingga dapat melibatkan perasaan, sensasi tubuh, imajinasi, dan pikiran sekaligus.

Ketiga, terutama dalam film-film fiksi-ilmiah, film mampu membukakan kemungkinan-kemungkinan baru untuk memahami realitas saat ini maupun masa depan secara grafis dan imajinatif. Maka melalui film ia dapat menemukan rangsangan yang lebih kuat, lebih terperinci, sekaligus lebih realistis.

Dengan demikian pencarian abadi manusia ihwal hakikat dirinya dan alam semestanya, ternyata, dapat dihadirkan bukan hanya melalui sosok-sosok filosuf tulen, semacam Plato, Kant, Nietzche, dan Decrates, melainkan juga melalui bintang-bintang film semacam Tom Cruise, Harrison Ford, Sigourner Weaver, dan Keanu Reeves.

Dalam buku setebal 251 halaman ini, Mark Rowlands berhasil mengemas film-film Hollywood untuk dijadikan sebagan bahan acuan dalam mempelajari filsafat. Di buku ini Mark Rowlands berhasil menghadirkan The Matrix, yang akan mengajak kita untuk lebih memahami sifat-sifat dasar realitas, dikaitkan dengan bidang filsafat yang berhubungan dengan pengetahuan yaitu epistimologi. Star Wars, kita diajak untuk menemukan kebaikan dan kejahatan. Total Recall, mengajak kita untuk mendalami isu tentang identitas personal. Minority Report, dalam film ini kita disuguhi tema yang berhubungan dengan kehendak bebas, yaitu kebebasan yang dipertentangkan baik itu dari laur maupun daru dalam. Blade Runner, membawa kita menjumpai persoalan kematian dan makna hidup. Sedang dari film Terminator I dan II, kita diajak untuk berusaha membidik pikiran-tubuh dari dua bagian yaitu, bagian dalam dan luar.

Judul-judul film yang tertera dalam buku ini memang bisa membuat orang mengernyitkan dahi. Bagaimana mungking filsafat bisa nyambung dengan film-film "pasaran" semacam itu ? Tetapi jika membaca isinya lebih jauh, ternyata menjadi jelas bahwa Rowlands tak hendak sekadar bercanda. Penulis berusaha memperkenalkan kita dengan dunia filsafat, hingga kita lebih bisa memaknai akan hadirnya ilmu filsafat tersebut.

Dr I Bambang Sugiarto dalam kata pengantarnya menyampaikan kelemahan umum dari mempelajari filsafat, yaitu masih bersfiat Skolastik akademis, artinya bahwa filsafat dihadirkan lebih sebagai sistem-sistem gagasan atau paket informasi, yang tinggal dihafal. Akibatnya orang memang tampak menguasai dan hafal di luar kepala khazanah pengetahuan filosofis, tetapi kemampuan dalam berpikirnya sungguh tidak berkembang. Visi pribadinya miskin. Dan kalaupun menganalisis realiras konkrit, hanyalah sekadar mencocok-cocokan khazanah konsep dari literatur dengan realitas.

Semestinya belajar filsafat, lebih memprioritaskan "prose" bukan informasi yang terjadilantas bukanlah belajar filsafat melainkan belajar berfilsafat (melalui gagasan para filosof terdahulunya). Filsafat bukan perkara "mengetahui" melainkan tantang "melakukan".

Jika kita ingin mengetahui lebih dalam tentang gagasan-gagasan para filosof, buku ini bukanlah pilihan tetap. Namun, jika kita mencari bagaimananya berfilsafat, buku ini adalah keharusan. Di samping itu juga buku ini adalah sebuah contoh canggih bagaimana bernalar secara filosofis, dengan memanfaatkan film-film populer dalam kehidupan sehari-hari. Bobot argumentasi-argumentasi yang dimainkannya tajam, kuat, dan terperinci.

Kehadiran buku ini, cocok sekali bagi mereka yang ingin mengenal lebih dalam tentang dunia filsafat, bahkan bagi mereka yang telah lebih ke depan dalam studi filsafat sekalipun. Karena buku ini mampun menggugat kembali apa yang mereka kira telah meraka ketahui. Masalah yang diperkarakan memang masalah klasik, tetapi cara Rowlands menalarkan sunguh lain, sering kali di luar dugaan. Selamat membaca.


Salam ... !!!

Selamat bertemu lagi dengan saya di sini. Pertama-tama saya mau ucapin maaf yang sebesar-besarnya karena postingnya telat lagi. Kedua, saya ingin mengucapkan selamat Idul Fitri 1429H dan semoga segala sesuatunya menjadi hikmah dan berkah buat Anda semua. Ketiga, saya lupa lagi. Hehe ...

Oh iya, sesuai judulnya, sekarang ini kita akan membahas cara belajar filsafat. Ini merupakan materi yang gampang-gampang susah untuk dilaksanakan. Sebab, cara belajar sangat bergantung pada karakter masing-masing pribadi yang amat khas. Ada pribadi yang suka belajar dengan tekun dan rutin. Ada yang senang belajar sambil bersantai dan mendengarkan musik. Ada pula yang hanya belajar pada saat mau ujian, alias belajar dengan model SKS (Sistem Kebut Semalam). (Kebanyakan orang Indonesia kayaknya lebih suka dengan yang terakhir. ;-) )

Nah, dalam kaitannya dengan cara belajar filsafat, karakter seperti ini akan sangat mempengaruhi pola belajar filsafat. Walaupun demikian, tetap saja ada pola umum yang dapat kita pakai dalam mempelajari filsafat. Di sini, saya akan mengetengahkan pola umum yang paling mudah dilaksanakan. Cara belajar yang dimaksud akan dijelaskan melalui contoh ketika saya belajar filsafat pertama kali.

Ketika Anda mempelajari filsafat pertama kali, tentunya kebingungan akan hadir dan terus membayangi Anda. Anda biasanya akan dibingungkan oleh masalah-masalah: saya harus belajar dari mana, saya harus belajar apa; apakah saya harus belajar dengan sistematik atau tidak; apakah saya harus mempelajari seluruh materi filsafat atau hanya sebagian saja; apakah ada manfaatnya kalau belajar filsafat apa tidak; apakah saya akan 'gila' atau menjadi 'tidak waras' kalau belajar filsafat apa tidak; dan yang terakhir, mungkinkah saya belajar filsafat apa tidak.

Semua kebingungan atau kekhawatiran yang muncul ini adalah wajar dan saya juga mengalaminya. Pada saat situasi ini muncul, dulu saya memilih untuk belajar filsafat dengan cara mempelajari sejarahnya. Artinya, saya mulai masuk dalam dunia filsafat dengan mengawalinya pada materi sejarah filsafat. Walaupun cukup efektif buat saya ketika itu, namun saya dihadapkan pada pengembaraan nan panjang dan melelahkan.

Bagaimana tidak, saya dengan tidak sadar 'dipaksa' untuk mempelajari sejarah filsafat yang terentang selama kurang lebih dari 2500 tahun. Saya larut dan kemudian mempelajari secara otodidak sejarah filsafat Yunani, Islam, India, Cina, Barat di masa Abad Pertengahan, Abad Pencerahan, Abad XVI hingga Abad XX. Walaupun tidak sepenuhnya otodidak karena saya mendapatkan arahan dari mata kuliah sejarah filsafat yang diberikan di Fakultas, saya tetap merasa tidak puas dengan uraian-uraian dosen saya tersebut. Pernah satu waktu saya bertanya dalam mata kuliah Sejarah Filsafat Islam tentang teori Emanasi yang diungkapkan Al-Farabi mengikuti uraian Emanasi Plotinus, dosen saya tersebut malah bilang untuk tidak 'ngeyel'.

Saya bertanya-tanya dalam hati. Saya kan kuliah untuk mendapatkan penjelasan atau jawaban. Kenapa malah saya tidak boleh bertanya tentang masalah itu? Walaupun agak nggrundel dalam hati, saya tetap ikuti kuliah itu hingga akhir. Saya mendapatkan nilai A untuk mata kuliah Sejarah Filsafat Islam. Tetapi saya tidak mendapatkan pengetahuan apapun kecuali pengenalan terhadap tokoh-tokoh Filsafat Islam beserta pengenalan atas teori-teori yang diungkapkannya. Akhirnya, saya mulai mendapatkan sedikit gambaran yang cukup baik ketika memutuskan untuk membaca buku biografi Ibn Sina secara otodidak tanpa terlalu peduli dengan buku teks yang dianjurkan.

Inilah gambaran sederhana cara saya belajar filsafat untuk pertama kali. Meskipun begitu, ketika saya mulai masuk dalam ranah kajian filsafat secara lebih jauh, saya kembali dihadapkan pada kebingungan untuk memilih cabang filsafat apa yang akan saya telaah lebih serius. Apakah Metafisika atau Ontologi, Aksiologi, Etika, Epistemologi, Filsafat Ilmu, atau cabang lainnya. Saya mencoba memulainya dari Metafisika. Namun, karena kekurangan referensi yang membahas bidang ini, saya urung mempelajarinya secara serius.

Titik terang untuk mempelajari cabang filsafat mulai muncul lagi-lagi karena pengembaraan saya dalam sejarah filsafat. Kali ini saya terpikat dengan tokoh yang bernama Ludwig Wittgenstein. Ia adalah seorang filsuf Jerman-Inggris yang menekuni bidang Mesin Pesawat Terbang di awal kuliah, namun berbelot menekuni filsafat karena dorongan untuk mempelajari Matematika secara lebih mendalam. Melalui Wittgenstein, saya didorong untuk menekuni Filsafat Bahasa hingga akhirnya bergerak ke bidang Semiotika.

Ketika saya asyik dengan semua pembelajaran itu, tak terasa saya harus menyiapkan skripsi sebagai ujian terakhir mempelajari filsafat di kampus pada tahun 1999. Lagi-lagi saya bingung harus mengambil tema apa yang sesuai dengan minat filosofis saya waktu itu. Saya siapkan judul mulai dari tema Logika, teori "Public Sphere"-nya Jurgen Habermas, hingga kajian mengenai Wittgenstein itu sendiri. Namun demikian, saya malah tertambat hati dengan tema Cyberspace setelah membeli buku Cyberspace for Beginner terbitan Mizan dari tukang buku loakan di jalan yang membelah kampus IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) ke arah jalan Gejayan.

Keputusan pun dibuat dan akhirnya saya mengajukan skripsi filsafat dengan tema Cyberspace. Teman-teman di kampus pun rada-rada kaget. Apa hubungannya Cyberspace dengan filsafat? Mereka mengajukan pertanyaan itu sering kali. Bagaimana pun juga itu adalah sesuatu yang lumrah karena di tahun 1999 Internet belum begitu menjamur dan hanya sedikit orang yang paham akan Internet. Tetapi, saya nekat. Saya paksa diri saya untuk belajar sesuatu yang baru untuk menemukan sisi filosofisnya. Akhirnya, melalui perjuangan selama empat tahun, jadilah skripsi saya. (Duh, lama banget bikinnya! Termasuk orang yang menyandang gelar MA (Mahasiswa Abadi) ya? ... Iya nih, gak salah tuh. Hehe...)

Duh, ko jadi cerita ya? Maaf, tapi inilah cara saya belajar filsafat. Jadi, saya terpaksa memaparkannya panjang lebar untuk menjelaskan pola belajar filsafat yang saya miliki. Terkesan serabutan dan tidak efektif memang, meski mudah untuk dilaksanakan. Oleh karena alasan ini, saya akan mencoba untuk menyusun cara belajar filsafat yang lebih efisien dan efektif pada posting selanjutnya. Demikian, tulisan saya untuk cara belajar filsafat bagian pertama. Mohon kritik dan sarannya!
Mungkin Anda sudah membaca tulisan saya yang berjudul Cara Belajar Filsafat (1). Dalam tulisan itu dijelaskan cara saya belajar filsafat untuk pertama kalinya dan perjalanan saya ketika belajar filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hingga akhirnya lulus di tahun 2003. Walaupun belajar dengan serabutan, saya masih bisa belajar filsafat dengan baik karena tertolong dengan perkuliahan yang saya ikuti di fakultas. Namun, dalam bayangan saya, seandainya saya tidak pernah menjadi mahasiswa filsafat, mungkin ceritanya akan lain. Saya mungkin belum tentu bisa belajar filsafat dengan baik.

Dengan pikiran serupa ini, muncul gagasan dalam benak saya untuk mencari tahu cara belajar filsafat yang baik dengan lebih mudah dan sederhana. Mudah dengan arti kita dapat mempelajari filsafat tanpa kepayahan, dan sederhana yang berarti kita akan dapat belajar filsafat tanpa harus dipusingkan oleh teori-teori filsafat yang njelimet atau susah dicerna. Walaupun demikian, gagasan ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, karena mungkin ada banyak orang yang sudah menerapkan gagasan ini lebih baik dari saya.

Contohnya adalah Jostein Gaarder, seorang pengajar filsafat dari Oslo, Norwegia, yang mengarang buku "Sofies verden" (Sophie's World) sebagai wahana baru untuk menjelaskan sejarah filsafat melalui novel. Versi Indonesia untuk buku ini telah diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul Dunia Sophie. Selain pada Gaarder, saya juga berhutang budi pada mas Antariksa, salah seorang senior saya di Fakultas Filsafat UGM. Dia yang mengajarkan pada saya, walaupun tidak secara langsung, untuk belajar filsafat secara having fun atau menyenangkan. Itu karena dia adalah orang yang tidak mau dipusingkan oleh teori-teori filsafat yang njelimet. (Mas Antariksa ini aktif mengelola jurnal Kunci yang mengangkat tema Cultural Studies semenjak 1999 hingga sekarang)

Gaarder memberikan contoh buat saya untuk mempelajari filsafat dengan enak dan mas Antariksa mengajarkan pada saya untuk tidak selalu berpaku pada teori filsafat yang njelimet. Namun, tidak ada yang mengajarkan pada saya suatu cara untuk belajar filsafat dengan mudah. Meskipun begitu, saya tidak pernah merasa segan untuk mencari cara belajar filsafat dengan mudah. Ini diperuntukkan bukan hanya bagi saya secara pribadi, tetapi juga bagi Anda yang senang belajar filsafat.

Untuk mendapatkan solusinya, saya akan mencoba menganalisis terlebih dahulu cara belajar saya yang telah lalu.

Ketika saya belajar filsafat untuk yang pertama kali, saya ini sebenarnya menggunakan cara learn by try (belajar dengan coba-coba). Ini adalah cara belajar yang umum dipakai oleh setiap orang ketika ia dihadapkan pada masalah atau persoalan yang belum ia kenal sepenuhnya. Bahkan, pada riset yang paling canggih sekalipun di bidang ilmu dan teknologi, cara ini masih dipakai. Terutama untuk menemukan sesuatu yang baru dan riset itu tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Walaupun demikian, tetap ada kelemahan dalam cara ini. Sebab, cara belajar seperti ini lebih banyak menghabiskan waktu, tenaga, dan tentu saja biaya. Padahal, kita tahu, setiap orang memiliki waktu, tenaga, dan harta yang terbatas. Dalam kaitannya dengan masalah ini, belajar filsafat seringkali dipandang sebagai sesuatu yang mahal dan mewah. Itu karena dalam pikiran orang awam, filsuf itu dibayar hanya untuk "melamun". (Wah, enak dung? ^_^)

Oleh karena itu, kita sebaiknya memilih cara belajar yang lain. Cara belajar lainnya yang mungkin dapat kita lakukan ada dua macam, yaitu (1) learn by experience dan (2) learn by guidance. Cara belajar pertama difokuskan pada bagaimana caranya kita mempelajari sesuatu dengan berdasarkan pada pengalaman yang kita miliki. Sedangkan pada yang kedua, cara belajarnya terfokus pada petunjuk yang akan mengarahkan kita pada tujuan pembelajaran.

Pada cara belajar yang pertama, belajar filsafat akan menjadi lebih mudah dipahami bila masalah filsafatnya dikaitkan dan dijelaskan dengan apa yang kita alami sehari-hari. Contoh untuk uraian ini sudah saya terapkan ketika saya menjelaskan kenapa kita harus belajar filsafat dalam posting Mengapa Belajar Filsafat? dan posting yang berjudul Mau ke mana? yang menjelaskan arah kita dalam berfilsafat.

Sedangkan pada cara belajar yang kedua, inilah yang ditempuh ketika seseorang belajar filsafat di perguruan tinggi. Namun, model belajar filsafat di perguruan tinggi menjadi tidak efektif ketika dilaksanakan dalam kelas yang besar dan terdiri dari banyak orang. Belajar filsafat dengan model learn by guidance hanya akan berlaku efektif bila diterapkan pada hubungan Guru dan Murid satu-satu. Artinya, murid ini dibimbing khusus secara pribadi oleh seorang Guru. Ini mirip ketika seorang mahasiswa mengajukan skripsi sebagai syarat untuk ujian akhir yang dibantu oleh Dosen Pembimbing. (Kalau dosennya bukan ahli di bidang yang dipilih ma mahasiswa gimana ya? Hehe...)

Dengan memperhatikan model-model belajar yang telah disebutkan, memang masing-masing cara belajar memiliki kelebihan dan kekurangannya. Namun, yang terpenting sekarang ini, bagaimana menggunakan tiga model belajar tersebut secara komplementer (saling melengkapi) ketika kita belajar filsafat. Oleh karena kita menginginkan belajar filsafat dengan mudah dan sederhana, maka tentu saja ada cara yang efektif dalam menggunakannya. Berikut ini, ada beberapa tip yang bisa Anda gunakan.
  1. Untuk tema-tema yang pokok dan mungkin relatif sulit dicerna, khususnya yang berkaitan dengan tema Filsafat Sistematis dan Filsafat Regional, Anda sebaiknya menggunakan cara belajar belajar filsafat dengan model learn by guidance. Sebab, cabang filsafat seperti Logika, Ontologi, Aksiologi, serta Epistemologi tidak setiap orang suka dan menguasainya. Apalagi cabang yang sangat khusus dan berhubungan dengan ilmu lain, misalnya Filsafat Hukum dan Filsafat Matematika, orang yang belajar ini sedikitnya dituntut untuk menguasai masalah hukum dan matematika. Terus, berkaitan dengan Filsafat Regional, learn by guidance akan sangat membantu ketika Anda harus membaca teks-teks orisinal dalam bahasa-bahasa asing (seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Arab, Hindi, Cina), maupun bahasa-bahasa nusantara (seperti bahasa Melayu, Batak, Sunda, Jawa, dan bahasa lainnya).

  2. Untuk tema Filsafat Historis, Anda bisa menggunakan model learn by try karena ini relatif mudah dicerna dan dapat dilakukan secara otodidak. Hal ini dapat terlaksana karena teks sejarah biasanya ditulis dalam gaya naratif atau cerita. Referensi yang paling baik untuk ini adalah buku Jostein Gaarder tersebut di muka yang berjudul Dunia Sophie dari penerbit Mizan.

  3. Untuk berfilsafat secara mandiri, model yang paling cocok adalah model learn by experience. Di sini, usahakan Anda temukan kaitan yang paling dekat antara suatu masalah filsafat dengan pengalaman sehari-hari.

Nah, mungkin ini yang bisa saya sampaikan untuk penjelasan mengenai cara belajar filsafat yang mudah sekarang ini. Mudah-mudahan ini bisa membantu Anda belajar filsafat secara lebih baik. ;-)


Belajar Filsafat, Kuliah Filsafat , Tokoh Filsafat , Belajar Kuliah, Sekolah Filsafat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar